RSS

Tragedi Lapindo Berpotensi Timbulkan Konflik Sosial

Tragedi luapan lumpur panas diladang eksplorasi migas PT. Lapindo Brantas di Sidoarjo berpotensi menimbulkan konflik social. Konflik yang dikhawatirkan muncul tidak hanya konflik horizontal, melainkan juga konflik vertical. Masyarakat yang frustasi akan cenderung bertindak agresif. Terlebih lagi musim hujan sudah dekat, banjir bandang yang akan terjadi di sidoarjo dan sekitarnya akan menambah warga semakin frustasi. Potensi gejoalak social akan semakin sangat besar akibat penderitaan mereka yang tak kunjung berakhir.

Fenomena munculnya konflik di sidoarjo sudah terlihat, sebab konflik antarwarga di beberpa desa seperti Siring dan Renekenongo akibat keberadaan tanggul. Satu kelompok warga menghendaki tanggul tersebut, sementara warga lainya karena merasa dirugikan. Kejadian lain yang juga bisa menggambarkan konflik dalam paparan di Desa Kedung bendo dan Renokenongo. Disana masyarakat berselisih paham mengenai besaran ganti rugi yang diberikan.

Potensi seperti itumasih harus ditambah dengan nasib anak-anak sekolah. Para pelajar harus mengungsi ditempat yang kurang layak, seperti 478 siswa di Porong yang terpaksa belajar dibangunan pasar. Dapat dipastikan bahwa mereka tidak akan memiliki kesiapan yang baik untuk mengahadapi Ujian Nasional. Lalu, jika mereka tidak lulus, bukan hanya mereka yang akan terkena frustasi, melainkan juga para orang tua dan guru.

Bencana yang terus menghimpit kehidupan tidak mustahil akn membuat warga tidak percaya kepada pemerintah. Bila sudah demikian, potensi konflik vertical muncul. Kalau ini terjadi pemerintah harus menurunkan aparat keamanan untuk menyelesaikannya, padahal aparat disana sangat terbatas.

Bencana Lapindo yang menyebabkan 2.615 kepala keluarga harus mengungsi akan menimbulkan dampak social seperti frustasi dan konflik. Selain itu sekitar 20 pabrik di Sidoarjo terpaksa di tutup, 400 hektar sawah tidak dapat berproduksi, 1000 hektar tambak udang organic rusak , dan 1.741 buruh telah kehilangan pekerjaannyaakibat tragedy ini.

0 komentar:

Posting Komentar