3) Menetapkan Harga Berdasarkan Permintaan
Penentuan harga barang ini terutama di praktekkan oleh perusahaan jasa seperti pengangkutan kereta api, Jasa penerbangan, restoran dan Bioskop. Perusahaan Kereta api misalnya, misalnya menawarkan tiket murah untuk orang yang selalu berpergian bagi pelajar dan orang tua yang sudah pensiun.
4) Kepemimpinan Harga
Penentuan harga seperti ini berlaku dalam pasar barang yang bersifat oligopoli yang merupakan struktur pasar, dimana terdapat perusahaan yang dominan yang mempunyai persaingan yang lebih kukuh dari pada perusahaan lainnya.
5) Menjual Barang Berkualitas dengan Harga Rendah
Kebijakan ini dapat dilakukan oleh perusahaan industri manufaktur atau hypermarket seperti Makro dan Carrefur. Strategi Penentuan harga mereka lebih menekankan kepada peningkatan volume barang yang terjual dan bukan memperoleh keuntungan yang tinggi.
6) Kebijakan Harga Tinggi Jangka Pendek
Kebijakan harga (price Skimming) adalah cara untuk menetapkan harga tinggi yang bersifat sementara yaitu pada waktu barang yang dihasilkan nulai dipasarkan. pada periode itu, perusahaan belum menghadapi persaingan dan akan menetapkan harga yang tinggi supaya pengembalian modal dapat dipercepat.
Sedangkan menurut Boone dan Kurz (2002:78), "secara umum, perusahaan dapat memilih dari tiga alternatif strategi penetapan harga : skimming, penetrasi, dan penetapan harga kompetitif".
e. Metode Pendapatan Harga
Menurut Herman (2006:175) ada beberapa metode penetapan harga (methods of price determination) yang dapat dilakukan budgeter dalam perusahaa, yaitu:
perusahan yang baru saja berdiri biasanya memakai metode ini. penetapan harga dilakukan dengan menggunakan instink saja walaupun market survey telah dilakukan. Biasanya metode ini digunakan oleh para pengusaha yang tidak terbiasa dengan statistik. Penggunanaan metode ini sangat murah karena perusahaan tidak memerlukan konsultan untuk surveyor. akan tetapi tingkat kekuatan prediksi sangat rendah karena ditetapkan oleh instink.
2) Metode Berbasis Pasar (Market-Based-Pricing)
3) Metode Berbasis Biaya (Cost-based pricing)
Penentuan harga barang ini terutama di praktekkan oleh perusahaan jasa seperti pengangkutan kereta api, Jasa penerbangan, restoran dan Bioskop. Perusahaan Kereta api misalnya, misalnya menawarkan tiket murah untuk orang yang selalu berpergian bagi pelajar dan orang tua yang sudah pensiun.
4) Kepemimpinan Harga
Penentuan harga seperti ini berlaku dalam pasar barang yang bersifat oligopoli yang merupakan struktur pasar, dimana terdapat perusahaan yang dominan yang mempunyai persaingan yang lebih kukuh dari pada perusahaan lainnya.
5) Menjual Barang Berkualitas dengan Harga Rendah
Kebijakan ini dapat dilakukan oleh perusahaan industri manufaktur atau hypermarket seperti Makro dan Carrefur. Strategi Penentuan harga mereka lebih menekankan kepada peningkatan volume barang yang terjual dan bukan memperoleh keuntungan yang tinggi.
6) Kebijakan Harga Tinggi Jangka Pendek
Kebijakan harga (price Skimming) adalah cara untuk menetapkan harga tinggi yang bersifat sementara yaitu pada waktu barang yang dihasilkan nulai dipasarkan. pada periode itu, perusahaan belum menghadapi persaingan dan akan menetapkan harga yang tinggi supaya pengembalian modal dapat dipercepat.
Sedangkan menurut Boone dan Kurz (2002:78), "secara umum, perusahaan dapat memilih dari tiga alternatif strategi penetapan harga : skimming, penetrasi, dan penetapan harga kompetitif".
- Strategi Penetapan harga skimming, strategi ini sengaja menetapkan harga relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga produk-produk pesaing.
- Strategi penetapan harga penetrasi, menetapkan suatu harga rendah sebagai senjata utama pemasaran. penetapan harga penetrasi mengasumsikan bahwa menetapkan harga dibawah harga pasar akan menarik para pembeli dan menggeser sebuah merek pendatang.
- Strategi penetapan harga kompetitif, organisasi-organisasi mencoba mengurangi tekanan persaingan harga dengan menyamakan perusahaan lain dan mengkonsentrasikan usaha pemasaran mereka pada elemen produk, distribusi, dan unsur-unsur promosi.
e. Metode Pendapatan Harga
Menurut Herman (2006:175) ada beberapa metode penetapan harga (methods of price determination) yang dapat dilakukan budgeter dalam perusahaa, yaitu:
- metode taksiran (judgemental method)
- metode berbasis pasar (market-based pricing) : a. harga pasar saat ini (current market price), b. Harga pesaing (competitorprice), c. Harga pasar yang disesuaikan (adjusted current marker price).
- Metod berbasis biaya (cost-based pricing) : a. Biaya penuh plus tambahan tertentu (full cost plus mark-up), b. Biaya variabel plus tambahan tertentu (variabel cost plus mark-up).
perusahan yang baru saja berdiri biasanya memakai metode ini. penetapan harga dilakukan dengan menggunakan instink saja walaupun market survey telah dilakukan. Biasanya metode ini digunakan oleh para pengusaha yang tidak terbiasa dengan statistik. Penggunanaan metode ini sangat murah karena perusahaan tidak memerlukan konsultan untuk surveyor. akan tetapi tingkat kekuatan prediksi sangat rendah karena ditetapkan oleh instink.
2) Metode Berbasis Pasar (Market-Based-Pricing)
- Harga pasar saat ini (current market price) : metode ini dipakai apabila perusahaan mengeluarkan produk baru, yaitu hasil modifikasi dari produk yang lama. penggunaan metode ini muran dan cepat. akan tetapi pangsa pasar yang didapat pada tahun pertama relatif kecil karena konsumen belum mengetahui profil produk baru perusahaan tersebut, seperti kualitas, rasa, dan sebagainya.
- Harga pesaing (competitor price) : metode ini hampir sama dengan metode harga pasar saat ini. perbedaannya menetapkan harga produknya dengan mereplikasi langsung harga produk perusahaan saingannya untuk produk yang sama atau berkaitan. dengan metode perusahaan berpotensi mengalami kehilangan pangsa pasar karena dianggap sebagai pemalsu. ini dapat terjadi apabila produk perusahaan tidak mampu menyaingi produk pesaing dalam hal kualitas,ketahanan, rasa, dan sebagainya.
- Harga Pasar yang disesuaikan (adjusted current market price) : penyusaian dapat dilakukan berdasarkan pada faktor eksternal dan internal. faktor eksternal tersebut dapat berupa antisipasi terhadap inflasi, nilai tukar mata uang, suku bunga perbankan, tingkat keuangan yang diharapkan (required rate of return), tingkat pertumbuhan ekonomi nasional atau internasional, perubahan dalam trend consumer spendling, siklus dalam trendi dan model, perubahan cuaca, dan sebagainya.faktor internalnya yaitu kemungkinan kenaikan gaji dan upah, peningkatan efisiensi produk atau operasi, peluncuran produk baru penarikkan produk lama dari pasar, dan sebagainya.
3) Metode Berbasis Biaya (Cost-based pricing)
- Biaya penuh plus tambahan tertentu ( Full cost plus mark-up) : Dalam metode ini budgeter harus mengetahui berapa proyeksi full cost untuk produk tertentu. full cost adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dan atau dibebankan sejak bahan baku mulai diproses sampai produk jadi siap untuk dijual. Hasil penjumlahan antara full cost dengan tingkat keuntungan yang diharapkan (required profit margin) yang ditentukan oleh direktur pemasaran atau personalia yang diberikan wewenang dalam penetapan harga, akan membentuk proyeksi harga untuk produk itu pada tahun anggaran mendatang. Required profit margin dapat juga ditetapkan dalam persentase. Untuk menetapkan profit, budgeter harus mengalihkan full cost dengan persentase required profit margin. penjumlahan antara profit dengan full cost aka menghasilkan proyeksi harga.
- Biaya Variabel plus tambahan tertentu (variable cost plus mark-up) : Dengan ini budgeter menggunakkan basis variable cost. Proyeksi harga diperoleh dengan menambahkan mark-up laba yang diinginkan. Mark-up yang di inginkan pada metode ini lebih tinggi dari mark-up dengan basis full cost. Hal ini disebabkan biaya variabel selalu lebih rendah dari pada full cost.


0 komentar:
Posting Komentar